Sabang, beritakisahnyata.com – Pada seminar International Community Service Collaboration yang diselenggarakan di Pulau Weh, Sabang selama dua hari, 23 sampai 24 Juli 2025 baru-baru ini secara virtual via Zoom, Dr. Ir. A. Muh. Arif Bijaksana, M.Si, dosen Universitas Islam Makassar (UIM) Makassar, memaparkan pentingnya menjaga potensi kelautan dimana rumput laut tidak hanya memiliki nilai ekonomi tinggi, tetapi juga berperan dalam ekosistem laut sebagai penyerap karbon dan penunjang kehidupan biota laut.
Materi berjudul “Optimization of Sabang Seaweed Economic Value Chain through Community-Based Joint Business Group (KUB)”, Dr. Andi Muh. Arif Bijaksana menekankan bahwa konsep KUB memungkinkan petani rumput laut untuk berkolaborasi dalam proses produksi, pengolahan, dan pemasaran, sehingga mereka dapat memperoleh manfaat yang lebih besar dibandingkan bekerja secara individu.
Ketua Asosiasi DKLPT (Asosiasi Dosen Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi) Indonesia, Nanda Saputra, M.Pd. yang juga selaku Conference Chair mengatakan kegiatan Konferensi dan PKM Internasional bergengsi bertajuk International Conference of Education, Religion, Social Humanities, Health, Science and Technology.
“Konferensi Internasional ini bekerja sama dengan Pemerintah Kota (Pemko) Sabang dan dibuka secara resmi oleh Wali Kota Sabang, H Zulkifli H Adam,” tuturnya.
Konferensi dan PKM Internasional ini merupakan wadah akademik yang mempertemukan para peneliti, akademisi, dan praktisi dari berbagai disiplin ilmu untuk berdiskusi sekaligus untuk berbagi ilmu pengetahuan seputar inovasi berkelanjutan di era transformasi digital.
Kegiatan ini diikuti sekitar seratus peserta dari tiga negara yaitu, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
Potensi Rumput laut Sabang, Permasalahan yang dihadapi serta solusinya Dr. A. Muh. Arif Bijaksana menjelaskan bahwa salah satu tantangan utama dalam industri rumput laut di Sabang adalah rantai nilai ekonomi yang belum terkelola dengan baik. Rantai nilai mencakup seluruh proses dari produksi, pengolahan, hingga distribusi produk rumput laut ke pasar yang lebih luas.
“Sayangnya, banyak petani rumput laut masih beroperasi secara individu tanpa koordinasi yang baik, sehingga akses terhadap pasar, teknologi, dan pendanaan sangat terbatas. Ketergantungan pada penjualan rumput laut mentah juga menjadi masalah, karena harga bahan baku cenderung fluktuatif dan nilai tambahnya rendah dibandingkan dengan produk olahan seperti agar-agar, kosmetik, farmasi, atau bioplastik , ’’ujarnya.
Dikatakan lebih lanjut, untuk mengatasi permasalahan ini, pembentukan Kelompok Usaha Bersama (KUB) berbasis komunitas pesisir menjadi salah satu solusi yang dapat diterapkan. Implementasi KUB berbasis komunitas pesisir tidak hanya akan meningkatkan pendapatan petani rumput laut, tetapi juga mendorong kesejahteraan masyarakat pesisir secara keseluruhan. Adanya organisasi yang solid, komunitas pesisir Sabang bisa mendapatkan akses yang lebih baik ke pasar nasional maupun internasional, memperkuat daya saing produk rumput laut lokal, serta menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan.
“Oleh karena itu, optimalisasi rantai nilai ekonomi rumput laut melalui KUB bukan hanya sekadar upaya pemberdayaan, tetapi juga strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing industri kelautan diSabang dan wilayah sekitarnya,” tegasnya.
Metode rancangan yang diperlukan
Menurut, Dr. A. Muh. Arif Bijaksana mengidentifikasi sejumlah metode pelaksanaan, mulai dari tahapan persiapan, tahapan pelaksanaan, analisis rantai nilai ekonomi (kondisi sebelum program, proyeksi setelah program, potensi keberlanjutan program, rencana anggaran, jadwal pelaksanaan, indikator keberhasilan-red).
Pada tahapan persiapan, meliputi: sosialisasi program kepada masyarakat pesisir Sabang, mengidentifikasi dan pendataan petani rumput laut potensial, pemetaan potensi pasar dan rantai nilai ekonomi rumput laut, koordinasi denga stakeholder terkait seperti Pemerintah Daerah, Dinas Kelautan dan Perikanan, Lembaga Keuangan.
Adapun tahapan pelaksanaan, meliputi: pembentukan KUB, peningkatan kapasitas pelatihan, pengembangan infrastruktur, pengembangan produk, pengembangan pemasaran.
“Tahapan evaluasi dan keberlanjutan, meliputi, monitoring dan evaluasi berkala terhadap kinerja KUB, pengembangan strategi keberlanjutan program, pendampingan KUB untuk akses permodalan dari lembaga keuangan, pengembangan jaringan kerja sama dengan stakeholder lain,” tuturnya.
Dr. A. Muh. Arif Bijaksana menegaskan bahwa melalui program PKM internasional ini diharapkan dapat mengoptimalkan rantai nilai ekonomi rumput laut di Sabang melalui pembentukan KUB berbasis komunitas pesisir.
Sebagai penutup, ia menyampaikan harapan dengan adanya pendekatan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan produk bernilai tambah, diharapkan program ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir sekaligus mendukung pengembangan ekonomi lokal di Kota Sabang.(tim)
