Mojokerto, beritakisahnyata.com – Sebelum menjalani proses produksi pembuatan gula, Pabrik Gula (PG) Gempolkrep menggelar tradisi selamatan buka giling. Acara ini berlangsung khidmat di Aula PG Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Sabtu (9/5/2026).
Tradisi selamatan menjadi penanda kesiapan pabrik memasuki musim giling. Sekaligus momentum memperkuat sinergi antara perusahaan, petani tebu, dan pemerintah daerah dalam mendukung swasembada gula nasional.

Prosesi selamatan diawali dengan tradisi mojokerto yaitu kirab manten tebu. Yakni, ritual adat Jawa berupa “pernikahan” simbolis sepasang batang tebu jantan dan betina.

Tradisi turun-temurun ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus doa agar musim giling tahun ini berjalan lancar, hasil panen melimpah, serta hubungan kemitraan antara petani tebu dan pabrik semakin erat.

Acara tersebut dihadiri Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) Mahmudi, Bupati Mojokerto Dr. Muhammad Al Barra yang diwakili Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Mojokerto Nuryadi, jajaran manajemen PG Gempolkrep, serta para petani tebu mitra.

General Manager PG Gempolkrep Edy Purnomo, S.T.P., dalam sambutannya menyampaikan bahwa musim giling tahun 2026 dijadwalkan dimulai pada 29 Mei mendatang. Pada musim produksi kali ini, PG Gempolkrep mendapat amanah mengolah tebu dari petani rakyat mitra binaan dengan target cukup ambisius.

“Tahun ini target giling PG Gempolkrep mencapai 1,1 juta ton tebu dengan harapan mampu menghasilkan gula di atas 75 ribu ton,” ujar Edy.

Menurutnya, target tersebut merupakan bagian dari komitmen PG Gempolkrep dalam mendukung program pemerintah mewujudkan ketahanan pangan dan energi nasional, khususnya melalui percepatan swasembada gula.

“Kami mohon doa dan dukungan agar seluruh proses produksi musim giling 2026 berjalan lancar, aman, selamat, dan memberikan hasil terbaik,” katanya.

Ia menegaskan, selain mengejar target produksi, PG Gempolkrep juga terus berupaya memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat sekitar. Khususnya meningkatkan kesejahteraan petani tebu melalui pola kemitraan berkelanjutan.

Sementara itu, Direktur Utama PT SGN Mahmudi mengungkapkan, pada musim giling 2026 pihaknya menargetkan pengolahan sekitar 20 juta ton tebu dari 39 pabrik gula yang berada di bawah naungan SGN di seluruh Indonesia.

“Target produksi gula nasional tahun ini sekitar 1,3 juta ton. Untuk PG Gempolkrep sendiri ditargetkan menggiling sekitar 1,1 juta ton tebu dengan produksi gula sekitar 75 hingga 80 ribu ton,” jelas Mahmudi.

Ia menambahkan, PT SGN berkomitmen penuh menjalankan arahan Presiden RI Prabowo Subianto dalam memperkuat swasembada gula nasional pada 2028 melalui revitalisasi pabrik gula secara bertahap.

Selain modernisasi pabrik, pemerintah juga terus mendorong peningkatan produktivitas tebu melalui intensifikasi budidaya, dukungan pupuk subsidi, perbaikan tata niaga gula, hingga penyediaan Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus bagi petani tebu.

“Petani juga mendapat dukungan KUR khusus hingga Rp500 juta dengan bunga 6 persen. Mudah-mudahan tahun ini menjadi tahun yang baik bagi para petani tebu,” ujarnya.

Mahmudi juga mengungkapkan, pemerintah telah menugaskan PT SGN untuk melakukan pembangunan tiga pabrik gula baru yang saat ini masih dalam tahap kajian, masing-masing di Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan.

Pada kesempatan yang sama, Asisten II Perekonomian dan Pembangunan Setdakab Mojokerto Nuryadi yang mewakili Bupati Mojokerto berharap selamatan buka giling tahun ini membawa keberkahan bagi seluruh proses produksi.

“Pemerintah Kabupaten Mojokerto berharap hubungan harmonis antara PG Gempolkrep, petani tebu, dan seluruh stakeholder terus terjaga sehingga seluruh proses produksi berjalan lancar dan saling menguntungkan,” kata Nuryadi.

Ia juga mendorong para petani untuk terus meningkatkan kualitas tebu agar rendemen minimal mencapai angka 8 persen.

“Kami mengapresiasi pola kemitraan dan pembinaan yang dilakukan PG Gempolkrep sehingga petani mampu menghasilkan tebu yang berkualitas,” tambahnya.

Menurut Nuryadi, sektor pertanian dan industri gula memiliki kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mojokerto. Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Kabupaten Mojokerto saat ini mencapai 6,05 persen, berada di atas rata-rata provinsi maupun nasional.

“Ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah daerah, Forkopimda, dunia usaha, dan seluruh elemen masyarakat,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, ia juga mengingatkan pentingnya aspek keselamatan kerja selama musim giling berlangsung. Agar seluruh aktivitas operasional berjalan optimal, aman, dan maksimal.(dik)

By redaksi