Aceh, beritakisahnyata.com — Dr. Ir. A. St. Fatmawaty, M.Si., dosen Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian dan Bioremediasi Lahan Tambang, Universitas Muslim Indonesia (UMI), berpartisipasi sebagai narasumber aktif dalam Kolaborasi Seminar Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang mengangkat tema “Transformasi Digital dan Pemanfaatan Kecerdasan Artifisial untuk Pemberdayaan Masyarakat yang Inklusif dan Berkelanjutan.”
Kegiatan yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dosen Kolaborasi Lintas Perguruan Tinggi (DKLPT) bersama Institut Agama Islam (IAI) Yapnas Jeneponto dilaksanakan pada Sabtu, 24-25 Oktober 2026, secara daring melalui Zoom Meeting, dengan penyelenggaraan berpusat di Aceh.

Keikutsertaan Dr. Fatmawaty menjadi bagian dari kontribusi akademisi dalam memperkuat kolaborasi lintas perguruan tinggi sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi digital yang berorientasi pada kebutuhan nyata masyarakat terutama dalam kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat.
Mengintegrasikan Kecerdasan Artifisial dan Perspektif Agroekonomi
Dalam pemaparannya, Dr. Fatmawaty mengangkat materi berjudul “Kecerdasan Artifisial untuk Transformasi Agroekonomi: Mendorong Petani Lebih Produktif, Adaptif, dan Berdaya Saing”. Materi ini menempatkan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) bukan semata-mata sebagai inovasi teknologi, melainkan sebagai instrumen pendukung pengambilan keputusan ekonomi dalam pembangunan pertanian dan pengembangan agribisnis.

Menurut perspektif agroekonomi, tantangan pembangunan pertanian tidak cukup dijawab dengan peningkatan jumlah produksi. Petani dan pelaku usaha agribisnis juga perlu memiliki kemampuan menganalisis biaya produksi, membaca perubahan harga, memahami kebutuhan pasar, mengelola risiko usaha, serta meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Hal ini sudah dilakukan pada beberapa kegiatan PKM nasional antara lain dengan mengedukasi petani, penyuluh lapangan, petani milineal, kelompok wanita tani, dalam pemanfaatan teknologi digital untuk melihat kebutuhan air tanaman, PH tanah, penggunaan e-commerce dan lain sebagainya hanya dengan penggunaan smartphone.

AI berpotensi membantu proses tersebut melalui pengolahan informasi, analisis tren pasar, penyusunan alternatif strategi usaha, pengembangan pemasaran digital, hingga evaluasi kinerja ekonomi usaha pertanian.
Pendekatan ini menegaskan bahwa keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuannya memberikan manfaat ekonomi dan memperkuat kesejahteraan masyarakat.

Dari Digitalisasi Menuju Kemandirian Ekonomi Masyarakat
Salah satu pesan utama yang diangkat dalam materi tersebut adalah pentingnya menghubungkan transformasi digital dengan pemberdayaan masyarakat secara nyata.
Pemanfaatan AI dalam sektor pertanian perlu diarahkan untuk memperkuat kapasitas petani, kelompok tani, pelaku UMKM agribisnis, perempuan pelaku usaha, dan generasi muda di perdesaan.

Masyarakat tidak cukup hanya diperkenalkan pada aplikasi digital, tetapi juga perlu didampingi agar mampu memahami informasi, menilai alternatif, dan mengambil keputusan ekonomi secara mandiri. Dalam konteks pemasaran, teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu pelaku usaha mengenali segmen konsumen, menyusun strategi promosi, mengembangkan identitas produk, dan memperluas akses pasar. Produk pertanian berpeluang berkembang dari sekadar komoditas menjadi produk bernilai tambah yang memiliki daya saing.

Meski demikian, pemanfaatan AI tetap harus disertai sikap kritis. Informasi yang dihasilkan teknologi perlu diverifikasi dan disesuaikan dengan kondisi sosial, ekonomi, budaya, serta karakteristik lokal masyarakat. Keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan pengetahuan manusia dan realitas lapangan.

Memperkuat Peran Perguruan Tinggi dalam Pengabdian kepada Masyarakat
Partisipasi dalam seminar nasional ini juga menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai mitra strategis masyarakat dalam menghadapi perubahan digital.

Pengabdian kepada masyarakat idealnya tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan atau pelatihan sesaat. Kegiatan tersebut perlu dikembangkan menjadi proses pendampingan yang berkelanjutan, melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi persoalan, merumuskan solusi, menerapkan inovasi, dan mengevaluasi dampaknya.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, komunitas, dan penyedia teknologi menjadi salah satu pendekatan yang dapat memperkuat keberlanjutan program pemberdayaan. Melalui kolaborasi tersebut, inovasi yang dikembangkan di lingkungan akademik diharapkan lebih relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki peluang lebih besar untuk diterapkan.

Bagi bidang agroekonomi, pendekatan ini membuka ruang untuk mengintegrasikan inovasi digital dengan peningkatan efisiensi usaha, penguatan kelembagaan ekonomi, perluasan akses pasar, peningkatan nilai tambah, serta pengembangan sistem agribisnis yang inklusif dan berkelanjutan.

Agroekonomi Cerdas untuk Masa Depan Pertanian Indonesia
Keterlibatan akademisi dalam forum nasional lintas perguruan tinggi menjadi kesempatan untuk memperluas pertukaran pengetahuan dan memperkuat jejaring kolaborasi pengabdian kepada masyarakat. Melalui materi yang dibawakan, Dr. Fatmawaty menekankan bahwa masa depan pertanian tidak cukup hanya ditandai oleh semakin luasnya penggunaan teknologi digital. Transformasi yang lebih bermakna adalah ketika teknologi membantu masyarakat mengambil keputusan dengan lebih baik, mengembangkan usaha secara lebih efisien, menciptakan nilai tambah, dan memperkuat kemandirian ekonomi.
Pesan tersebut sekaligus menempatkan agroekonomi sebagai perspektif penting dalam memastikan inovasi teknologi memberikan manfaat yang dapat dirasakan oleh petani dan pelaku agribisnis.

“Masa depan pertanian bukan sekadar pertanian yang semakin digital. Masa depan pertanian adalah pertanian yang semakin cerdas dalam mengambil keputusan, semakin kuat menciptakan nilai tambah, dan semakin mampu menyejahterakan masyarakatnya.” tegasnya.

Melalui kontribusi akademik dan kolaborasi lintas perguruan tinggi, Universitas Muslim Indonesia diharapkan terus mengambil bagian dalam pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengabdian yang mendukung pemberdayaan masyarakat serta pembangunan pertanian Indonesia yang lebih produktif, adaptif, inklusif, dan berdaya saing.(dik)

By redaksi