Pedagang Pasar Lakessi Pare – Pare Menjerit Resah Dengan Pungutan Liar Preman  Pasar

PARE – PARE, beritakisahnyata.com – Puluhan pedagang yang berjualan di pasar Lakessi, Pare – Pare, Sulawesi Selatan,  resah dengan ulah Preman Pasar yang terus memaksa membayar  pungutan liar kepada mereka.
Mulai dari biaya keamanan, kebersihan, listrik, air dan lain sebagainya.

Kepala Pasar Lakessi Kota Parepare, Muh Ramlan yang ditemui beritakisahnyata.com mengatakan jika dirinya sudah mengingatkan kepada oknum yang menarik pungutan-pungutan tidak resmi alias pungutan liar (pungli) kepada pedagang di pasar lakessi untuk berhenti menarik pungutan yang selama ini membuat resah pedagang.

Ramlan mengungkapkan, khususnya di bagian belakang pasar lakessi terindikasi rawan dengan pungutan-pungutan yang tidak resmi ke pedagang diduga dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

“Selama saya menjadi Kepala Pasar Lakessi, yang ada itu cuma retribusi kebersihan, itu resmi ada karcisnya. Kalau pun ada pungutan ke penjual selain itu, di luar dari pada tanggungjawab kami selaku pengelola pasar,” ujar Ramlan, Jumat, 23 Februari 2023.

Ramlan menuturkan jika oknum yang melakukan pungli itu adalah kelompok di luar dari pengelola pasar yang resmi ditunjuk dan di SK-kan oleh Pemerintah Kota Parepare.

“Memang dia orang pasar, dia juga pedagang tapi dia bukan pengelola. Cuma persoalannya, dia merasa bahwa keberadaannya di pasar ini seakan-akan dia jadi penguasa. Seenaknya saja nagih ke pedagang. Ada biaya keamanan dia tagih, kemudian ada juga tagihan air. Sementara air itu sebenarnya hanya pedagang-pedagang ikan yang butuh. Memang ada usaha air yang dipompa untuk dikasi orang. Semestinya yang ditagih (air) itu hanya pedagang ikan, tapi biasa itu sampai di belakang di pedagang sayur. Kemudian ada pungutan namanya CCTV yang dibebankan ke pedagang. Kemudian ada juga biaya parkiran. Parkir kendaraan yang menjual di mobil dia kelola,” urai Ramlan.

Meski demikian, lanjut Ramlan, dirinya sudah berkali-kali mengingatkan dan menegur secara persuasif. Bahkan telah menggerakkan keamanan di pasar untuk menghalau praktik pungli itu. Hanya saja, lanjut dia, sampai sekarang mereka masih jalan.

“Sudah saya tegur yang pergi menagih ke penjual bahkan sejak saya masuk saya tongkrongi di belakang. Saya sudah ingatkan bahwa hati-hati ki kalau memungut seperti ini tidak ada dasarnya, itu bisa nanti kita bermasalah hukum. Cuma karena oknum ini mengaku ada yang suruh, inilah selalu saya lakukan pendekatan secara persuasif bahwa jangan lakukan itu (pungutan tanpa dasar). Karena ini sudah menjadi tren bahwa ada pungutan di luar. Akhirnya kami selaku pengelola yang kena bahwa di pasar terjadi pungutan dilakukan oleh kepala pasar, padahal tidak ada,” terangnya.

Dijelaskan Ramlan jika sejak dirinya diangkat sebagai kepala pasar tidak ada pungutan seperti itu.

“Saya tegaskan, sejak ditunjuk sebagai pengelola di pasar Lakessi ini, sampai sekarang tidak ada dana (pungli) begitu yang saya kelola. Karena saya dikasih amanah, saya kerjakan sejauh mana kemampuan saya untuk menata pasar ini. Pemerintah selalu bijak bagaimana masyarakat bisa baik. Kalau memang oknum tersebut tidak mau berhenti melakukan pungutan maka kita akan mengambil langkah hukum,” tegasnya.

Selain itu, Ramlan juga menyinggung adanya aset pemerintah di area pasar yang sudah lama ditempati oleh warga.

“masih ada tempat di situ dia kuasai. Saya sudah lakukan pendekatan, saya sudah surati dia untuk mengambil alih asetnya pemerintah dalam hal ini pasar, karena tidak boleh warga menggunakan itu karena mau digunakan sesuai peruntukannya,” tandas Ramlan (ril/dik)

By redaksi