TUBAN – Bocah cacat ini tak pernah menyerah menjalani hidup. Meski tak memiliki kedua tangan, tapi dia tetap terus semangat untuk terus bersekolah. Bahkan dikelasnya, dia selalu meraih rangking pertama.

Rumah papan bercat putih di Dusun Boro RT 04/ RW 05, Kelurahan Banjar Arum, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tampak lengang saat di Kunjungi beritakisahnyata.com, beberapa waktu lalu.

Sepertinya seluruh penghuni rumah masih sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Hanya terlihat seorang bocah lelaki bernama Zainuri (10), berada didalam. Dia sedang belajar diruang tamu rumah rumah itu.

Jari-jari kakinya menggoreskan pensil di atas kertas buku gambar. Ya, Zainuri inilah bocah cacat itu. Sejak dilahirkan 10 tahun silam, anak satu-satunya pasangan almarhum Suhudi dan Ny Kastini ini, memang tak memiliki kedua tangan.

2-zainuri-memperagakan-kebolehannya-menggambarUntuk beraktivitas, dia hanya mengandalkan kedua kakinya. Setelah mengetahui kehadiran beritakisahnyata.com, Bocah kelas 3 Madrasah Ibtidaiyah (MI/Setingkat SD) ini, segera beranjak berdiri. Dia lalu bergegas kebelakang rumah, memanggil ibunya.

Tak lama kemudian, seorang perempuan muda muncul dari balik gorden pembatas antara ruang tamu dan ruang dalam. Dialah Ny. Kastini ibu kandung Zainuri. Setelah berbasa-basi sejenak, Ny. Kastini lalu mempersilahkan kami duduk diruang tamu.

Sebuah tikar dari anyaman daun pandan dibentangkan sebagai alas duduk. “Ya, begini ini keadaan rumah kami. Meja kursi nggak ada. Jadi kalau mau duduk dilantai, pakai tikar. Biar tidak kotor,”ucap Ny. Kastini.

Memang, rumah yang menjadi tempat bernaung sehari-hari Zainuri dan keluarganya ini, sangat jauh dari kesan mewah. Bahkan boleh dibilang, amat memprihatinkan. Selain dindingnya hanya terbuat dari susunan papan-papan kayu malah sebagian besar sudah lapuk, lantainya pun masih beralaskan tanah.

“Ini rumah orangtua saya. Sejak kecil hingga sekarang, saya masih tinggal disini. Nggak punya rumah sendiri,” kata Ny. Kastini. Yang dimaksud orangtua, adalah ayah dan ibu kandung Ny. Kastini, yaitu pasangan Mbah Lasto (65) dan Mbik Sunti (60). Mereka juga tinggal bersama dirumah itu.

3-rumah-zainuri-di-dusun-boro-kecamatan-rengel-kabupaten-tuban-jawa-timur“Hanya kami berempat tinggal disini. Kalau suami saya (ayahnya Zainuri) sudah lama meninggalnya. Jadi anak saya cuman Zainuri saja,” terang perempuan yang sehari-hari membantu ayahnya bekerja sebagai pemecah batu ini.

Sering Dihina

Sebagai ibu dari seorang anak cacat, tentu bukan hal mudah yang harus dijalani Ny. Kastini. Terutama dalam menghadapi cibiran dan cemoohan orang. Tak jarang setiap kali kepasar bila mengajak serta Zainuri, mereka menjadi pusat perhatian.

“Sering orang-orang itu melihat kami dengan pandangan aneh. Kadang bisik-bisik, walapun saya nggak tahu apa yang mereka gunjingkan. Tapi saya yakin kalau mereka itu membahas keadaan Zainuri,” ujarnya.

Bukan itu saja malah yang paling menyakitkan hati, beberapa orang dipasar sering memegang-megang lengan Zainuri yang cacat. Mereka seperti merasa aneh, dengan kondisi kekurangan fisik ditubuh bocah lelaki ini.

“Kadang malah ada yang diam-diam menarik lengan anak saya, seperti sengaja mengolok-olok. Malah sampai anak saya kesakitan,” ungkapnya. Tapi beruntung Zainuri tak pernah merasa minder dengan kejadian itu. Dia tetap tabah dan tak memperdulikan perlakuan orang-orang yang usil.

“Justru saya sebagai ibunya jengkel. Walau bagaimanapun keadaan anak saya, seharusnya mereka bisa menghargai. Toh Zainuri ini juga manusia. Tapi memang Tuhan berkehendak memberikan tubuh yang kurang sempurna,” jelas Ny. Kastini.

Tapi perlakuan berbeda justru datang dari para tetangga. Kondisi Zainuri yang cacat, membuat mereka merasa iba dan menaruh simpatik. Tak jarang Zainuri mendapatkan sumbangan , baik berupa uang ataupun barang-barang.

Termasuk barang kebutuhan pokok seperti beras dan gula. Inilah yang membuat Ny. Kastini sedikit terhibur. Dia merasa tidak semua orang bertabiat buruk dan menghina putranya yang cacat. Rupanya masih ada juga orang iba dan yang mau memberi perhatian.

Tidak hanya para tetangga. Pihak sekolah dimana Zainuri menuntut ilmu juga demikian. Mereka sering memberikan bantuan kepada Zainuri, berupa buku-buku tulis dan pelajaran. Selain itu Zainuri dibebaskan dari biaya iuran bulanan.

Semua ini, selain karena rasa simpati pada nasib Zainuri karena tubuhnya yang cacat juga karena prestasinya. Di sekolah, Zainuri termasuk salah satu siswa yang unggul. Baik itu dalam hal pelajaran formal maupun informal alias ekstra.

“Kalau pelajaran ekstra yang paling disukai itu menggambar dan kerajinan tangan. Sedang kalau pelajaran umum, hampir semuanya dia suka. Termasuk matematika,” jelas ibu muda ini.

Ingin Jadi Pelukis

Yah meski cacat Zainuri tetap bersekolah ke sekolah umum.  Dia bersekolah di MI yang terdapat pada Desa setempat.

“Dulu TK-nya didekat-dekat sini saja. Kalau berangkat dan pulang sekolah, dia jalan kaki sendiri. Nggak pernah mau diantar. Sejak kecil Zainuri memang ingin mandiri. Semua mau dilakukan sendiri, tanpa bantuan orang lain,” urai Ny. Kastini.

Cacat tubuh yang dialami Zainuri juga tak membuatnya ketinggalan pelajaran. Untuk menulis dia menggunakan jari-jari kakinya. Begitu juga saat menggambar, jari kakinya yang jadi andalan. Diantara semua pelajaran yang didapat, Zainuri sangat menonjol dalam bidang menggambar. Bahkan dia pernah mengutarakan cita-citanya pada Ny. Kastini, dia ingin menjadi seorang pelukis.

“Bilangnya sih begitu. Kalau sudah gede mau jadi pelukis. Enak bisa dapat uang banyak,” ucap Ny. Kastini menirukan kalimat putranya. Kadang mendengar cita-cita Zainuri, Ny. Kastini menitikkan air mata.4-tampak-lasto-sang-kakek-menggendong-zainuri

Dia tak sanggup membayangkan, bagaimana mungkin Zainuri yang tidak memiliki kedua tangan bisa benar-benar mewujudkankan cita-citanya itu.

“Tapi sebagai ibu saya cuma bisa berdoa, agar Zainuri bisa menjalani takdirnya kelak dengan bahagia. Paling tidak, dia bisa hidup normal seperti orang lain. Bisa menikah dan punya keturunan,” urainya.

Jika Ny. Kastini sangat sangsi putranya dapat mewujudkan cita-cita sebagai pelukis, lain lagi dengan Mbah Lasto. Sang kakek ini justru mantap meyakini kelak Zainuri dapat mewujudkan apa yang menjadi keinginannya.

“Kalau melihat gambar yang dibuat Zainuri sekarang, saya merasa dia mampu menjadi pelukis. Gambarnya bagus-bagus,” ujar Lasto. Untuk menggoreskan pensil atau spidol warna ke atas kertas gambar, Zainuri mengandalkan ibu jari dan telunjuk kaki kanannya.

Semua itu dilakukan dengan sempurna, seperti layaknya orang menggambar menggunakan jari tangan.

“Kalau menulis juga begitu, pakai jari-jari kakinya,” ungkap Lasto, yang tak pernah mengeluh, meskipun dia dikaruniai seorang cucu satu-satunya yang cacat. Selain bisa menggambar dengan bagus, Zainuri juga memiliki keistimewaan dalam hal mengingat sesuatu.

Ingatannya sangat tajam. Hal itu pula yang membuat Zainuri selalu bisa meyelesaikan soal-soal pelajaran hapalan di sekolahnya, dengan sempurna. Untuk pelajaran-pelajaran khusus hapalan, Zainuri tak pernah mendapat nilai ulangan dibawah angka 9.

Semua bisa dikerjakan dengan baik. Pelajaran yang diberikan oleh para guru, diserap 100 kedalam ingatannya. Kadang, dengan kelebihan dalam hal prestasi di bidang pendidikan yang dimiliki Zainuri, membuat Mbah Lasto sedih, karena tak bisa memberikan sesuatu yang lebih baik.

“Andai saja saya punya uang, mungkin Zainuri akan lebih baik. Saya pasti akan memberikan sesuatu yang terbaik buat cucu saya ini,” tegasnya. Namun nasib berkata lain, mereka ditakdirkan menjadi orang tak mampu.

Saat ini, Mbah Lasto hanya bisa berdoa demi masa depan Zainuri, cucu tercintanya. Dia juga berharap Tuhan memberinya umur panjang, agar dapat melihat Zainuri kelak menjadi orang yang berguna dan sukses.

“Saya yakin Tuhan Maha Adil. Buka cuma orang normal saja yang bisa meraih cita-cita. Zainuri juga pasti bisa,” tandas Mbah Lasto, sambil memeluk cucu satu-satunya ini. ( dik )

 

By redaksi