SURABAYA, beritakisahnyata.com – Diduga ditiru mantan distributornya sendiri, pemilik N’dia Beauty Care (NBC) mengaku harus menanggung dampak serius terhadap reputasi usaha, kepercayaan pelanggan, hingga keberlangsungan ekonomi keluarganya.

Di hadapan majelis hakim, ia meminta agar kerugian korban tidak dipandang sebatas persoalan sebuah logo.
Perjuangan membangun sebuah usaha dari nol tidak hanya membutuhkan modal, tetapi juga waktu, pengorbanan, dan kepercayaan masyarakat.

Namun, bagi pemilik N’dia Beauty Care (NBC), perjuangan panjang tersebut kini menghadapi ujian berat setelah identitas brand yang dibangunnya diduga ditiru oleh mantan distributornya sendiri.

Dalam penyampaian pernyataan sebagai korban di hadapan majelis hakim, Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Kasi Pidum) Yunan Putra Firdaus, dan Jaksa Penuntut Umum Iskandar, pemilik NBC mengungkapkan dampak yang menurutnya jauh melampaui persoalan peniruan logo.

Ia mengaku bukan hanya menghadapi persoalan identitas usaha, melainkan juga guncangan reputasi, kebingungan pelanggan, penurunan omzet secara drastis, hingga terpaksa merelakan aset pribadi untuk mempertahankan operasional bisnis dan memenuhi kebutuhan keluarga.

“Yang terluka bukan hanya perasaan saya. Yang terdampak bukan hanya nama brand saya. Ada usaha yang ikut terguncang, ada kepercayaan pelanggan yang harus saya perjuangkan kembali, dan ada penurunan omzet yang harus saya hadapi,” ungkapnya dalam pernyataan di persidangan.

Pemilik NBC menjelaskan bahwa N’dia Beauty Care bukanlah usaha yang dibangun dalam waktu singkat. Ia merintis bisnis tersebut dari bawah, memperkenalkan produk kepada masyarakat, membangun kepercayaan pelanggan, hingga menjadikan NBC sebagai brand yang mulai dikenal.

Menurutnya, logo dan identitas brand bukan sekadar gambar atau rangkaian huruf. Di balik identitas tersebut terdapat reputasi, kerja keras, investasi, serta kepercayaan pelanggan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Karena itu, dugaan peniruan identitas brand yang dilakukan oleh mantan distributornya sendiri menjadi pukulan tersendiri.

Persoalan tersebut, menurut korban, memunculkan kebingungan di kalangan pelanggan. Sebagian konsumen mulai mempertanyakan keaslian produk, bahkan ada yang mengaku takut membeli produk NBC karena munculnya keraguan akibat persoalan kemiripan identitas tersebut.

Situasi ini membuat korban harus kembali bekerja keras menjelaskan kepada pelanggan dan mempertahankan kepercayaan yang sebelumnya telah dibangun.

Dampak yang dirasakan korban disebut tidak berhenti pada persoalan reputasi.
Ia mengaku mengalami penurunan omzet secara drastis. Untuk mempertahankan operasional usaha sekaligus memenuhi kebutuhan keluarga, ia bahkan harus merelakan aset yang dimilikinya.

Kondisi tersebut semakin berat karena usaha yang dibangunnya menjadi salah satu sumber penghidupan banyak orang.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya menjadi tulang punggung keluarga dengan tanggungan tiga orang tua lanjut usia yang mengalami berbagai penyakit komplikasi, empat orang anak, serta tiga anak yatim yang merupakan keponakannya.

Selain itu, terdapat karyawan yang menggantungkan penghidupan dari usaha NBC.

Dengan tanggung jawab sebesar itu, penurunan pendapatan usaha bukan sekadar persoalan berkurangnya keuntungan, melainkan berpotensi memengaruhi kehidupan banyak orang.

“Tagihan tidak menghilang hanya karena omzet menurun. Kebutuhan orang tua yang sakit tidak bisa ditunda hanya karena pelanggan mulai ragu. Anak-anak juga tidak bisa berhenti memiliki kebutuhan hanya karena sumber penghidupan keluarga sedang terguncang,” tuturnya.

Dalam pernyataannya, korban menegaskan bahwa ia tidak bermaksud menjadikan kondisi keluarga sebagai alasan untuk meminta perlakuan khusus dari pengadilan.

Ia memahami bahwa perkara harus diputus berdasarkan fakta persidangan, alat bukti, dan ketentuan hukum yang berlaku.

Namun, ia berharap majelis hakim tidak mengabaikan dampak nyata yang harus ditanggungnya akibat peristiwa yang dilaporkan tersebut.

Menurutnya, persoalan ini tidak seharusnya hanya dilihat sebagai sengketa mengenai sebuah logo. Ada reputasi usaha, kepercayaan konsumen, keberlangsungan bisnis, serta kehidupan keluarga dan karyawan yang turut terdampak.

“Saya tidak meminta agar usaha saya dibesarkan oleh orang lain. Saya hanya ingin hasil kerja keras saya dihargai. Saya hanya ingin identitas yang saya perjuangkan tidak digunakan dengan cara yang merugikan saya,” tegasnya.

Ia juga berharap proses hukum dapat memberikan perlindungan terhadap hak-haknya sebagai korban, dengan tetap berpedoman pada fakta dan bukti yang terungkap di persidangan.

Di akhir pernyataannya, korban secara khusus menyampaikan harapan kepada majelis hakim, Kasi Pidum Yunan Putra Firdaus, dan Jaksa Penuntut Umum Iskandar agar mempertimbangkan seluruh dampak yang dialaminya.

Ia berharap perkara tersebut tidak hanya dilihat dari aspek formal peniruan identitas, tetapi juga dari konsekuensi yang harus ditanggung oleh pihak yang merasa dirugikan.

Baginya, pemulihan kepercayaan pelanggan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia tidak mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan reputasi NBC seperti sebelumnya, ataupun berapa banyak pengorbanan yang masih harus dikeluarkan untuk menyelamatkan usahanya.

Namun, ia menegaskan tidak ingin perjuangan bertahun-tahun membangun bisnis dari nol menjadi sia-sia akibat perbuatan pihak lain yang menurutnya telah merugikan.

“Saya datang membawa luka, tetapi saya tidak ingin meninggalkan ruang sidang ini dengan perasaan bahwa perjuangan saya tidak pernah didengar. Saya datang membawa harapan, dan saya berharap harapan itu tidak pulang dengan tangan kosong,” ungkapnya.

Ia menegaskan tidak meminta keadilan karena ingin membalas rasa sakit, melainkan agar haknya dihormati dan kerugian yang dialaminya dipertimbangkan secara objektif.

Pernyataan korban tersebut menggambarkan bahwa dampak dugaan peniruan identitas sebuah brand dapat merembet ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari kepercayaan konsumen, stabilitas usaha, hingga ketahanan ekonomi keluarga.

Bagi pemilik NBC, yang sedang diperjuangkan bukan semata-mata sebuah logo. Ada hasil kerja keras, reputasi yang dibangun bertahun-tahun, sumber penghidupan keluarga, serta nasib karyawan yang turut menjadi pertaruhan.

Kini, ia menyerahkan sepenuhnya perkara tersebut kepada proses hukum dan berharap majelis hakim memberikan putusan berdasarkan fakta persidangan, alat bukti, serta ketentuan hukum yang berlaku.

Satu pesan yang ingin disampaikannya sederhana: perjuangan seseorang membangun usaha dari nol harus dihargai, dan ketika hak serta hasil perjuangan itu diduga dirugikan, korban berhak memperoleh perlindungan dan keadilan melalui proses hukum.

“Saya tidak meminta kehidupan yang mudah. Saya hanya ingin perjuangan saya tidak dihancurkan begitu saja.” Ungkap pemilik merek NBC.(dik)

By redaksi